Warga Desa Sukamarga Resah Dengan Adanya Puluhan Bangunan di TPU Malegor

0

Lebak || Kilasberita.id – Berawal dari keresahan dan laporan warga, dengan adanya seseorang yang membangun 12 bangunan mirip makam di TPU kampung Malegor , desa Sukamarga, Kecamatan Sajira.

Maka Yusup selaku kepala desa segera melakukan musyawarah agar permasalahan ini tidak meluas dan bisa segera di selesaikan.

Musyawarah di laksanakan di kantot desa Sukamarga (21/5/2020), dalam kesempatan itu, Ust. Nasrudin, tokoh agama kampung malegor, menceritakan bahwa setahun yang lalu, waktu iya melakukan ziarah kubur, merasa aneh dengan keadaan TPU karena tidak seperti biasanya, makam terlihat bersih seperti ada yang merawat.

“Dalam hati saya berharap orang yang membersihkan makam adalah orang yang tahu sejarah, agar tifak di salah gunakan”, katanya.

“Dengan adanya musyawarah ini, Saya ingin pada hari ini juga permasalahan bisa selesai”,ungkapnya.

“Semoga yang membangun makam pada hari ini bisa menjelaskan apa tujuan dan silsilahnya”, katanya.

Di tempat yang sama, Ketua MUI kecamatan sajira KH Badriudin. mengungkapkan,

Awalnya iya di datangi tokoh agama kampung malegor dan menerima aduan terkait kejadian tersebut. Maka Ia segera menemui kepala desa agar permasalahan ini bisa selesai.

“Apapun dalihnya, membangun makam secara permanen menurut aturan agama di haramkan, karena setelah zenajah terurai kembali memjadi tanah maka di perbolehkan di jafikan makam lagi oleh orang lain pada generasi berikutnya, apalagi ini membangun makam yang tidak ada jenazahnya”, ucapnya.

Baca Juga :  Silatnas FKPAI Non-PNS, Kasi Pengembangan PAI Ajak Penyuluh Perkuat Ekonomi Umat

Kapolsek sajira, AKP. Waluyo, memberikan arahan kepada warga desa suka marga agar permasalahan ini di selesaikan dengan kepala dingin, jangan sampai ada perbuatan anatkis yang dapat merugikan diri sendiri.

“Kami dari pihak keamanan sipatnya hanya mendampingi, keputusan mutlak ada di tangan warga malegor”, ucapnya

Pada awalnya Anang selaku pembangun, di makam malegor menolak bangunannya di bongkar warga, karena menurutnya makam yang di bangun di tembok secara permanen bukan hanya di malegor saja, dan pembangunan itu menurut dia adalah hasil tirakat dan diskusi dengan menggunakan indra ke enam, namun setelah diberikan pemaparan dan penjelasan dari tokoh agama setempat akhirnya iya pun menerima keputusan hasil musyawarah, dan bangunan yang menurutnya adalah petilasan, harus di bongkar.

Otong tokoh masrakat setempat mengatakan, kuburan itu harus di bongkar karena imbasnya akan merusak pada kehidupan dan akidah masyarakat setempat”, terangnya.

Suherman selaku RT malegor, menambahkan,

“Pada awalnya kami tidak mengerti, namun kami rasa jika nanti ada warga malegor yang meninggal dan akan di makamkan, bisa bisa tidak kebagian tempat jika sudah penuh oleh bangunan permanen, yang tidak jelas asal usulnya”, tegasnya. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.