Soal Pro Kontra Sampradaya, Hindari Merasa Diri Paling Benar

0

KILASBERITA.ID – POLEMIK keberadaan sampradaya masih terus bergulir. Pihak yang menginginkan agar Sampradaya dikeluarkan dari pengayoman Hindu terus mendengungkan narasi yang memojokkan Sampradaya. Bahkan polemik telah berujung pada penutupan sejumlah asrham Sampradaya. Tentu kondisi ini sangat memalukan bagi umat Hindu hingga perlu disikapi dengan arif dan bijaksana. Masing-masing pihak diminta untuk menahan diri dan menghindari merasa diri paling benar.

Akademisi UNHI Denpasar, I Gusti Ketut Widana, mengatakan sejatinya, Sampradaya sudah ada di Bali sejak tahun 1970-an. Sampradaya kata Widana adalah “doktrin tradisional tentang pengetahuan”. Sebuah aliran keagamaan/kerohanian/spiritualisme yang hidup dari tradisi Hindu, kemudian diteruskan melalui upanayana (inisiasi) dengan sadhana (disiplin) spesifik menurut petunjuk para gurunya.

“Ajaran Weda yang dilaksanakan umat Hindu di Bali pun sebenarnya tergolong Sampradaya (mayoritas Siwa Sidhanta) yang juga berasal dari India, namun sudah “maloka-dresta” di Bali. Substansi dan esensinya tetap bersumber dari Weda, namun dengan tampilan materi (sosial, adat dan budaya) yang sesuai desa kala patra gumi Bali,” terang Widana.

Baca Juga :  Ketum Biro Komunikasi Cakra Kumdam I/BB Apresiasi Kenerja Polres Belawan Tangkap Pelaku Pemerasan Di Jalan Tol

Menurut lulusan pascasarjana UHN IGB Sugriwa ini letak permasalahan, tepatnya “kesalahan” Sampradaya sampai terbit SKB Bali dan MDA Bali tentang ‘Pembatasan Kegiatan Pengemban Ajaran Sampradaya Non Dresta Bali di Bali’, yang kemudian berbuntut pada penutupan ashram terletak pada ekslusivisme dan adanya arogansi.

Harus diakui Sampradaya selama ini memunculkan ekslusivisme kelompok “kehadiran Sampradaya dimaksud dipandang memosisikan diri sebagai kelompok aliran keagamaan (Hindu) yang “paling benar” menurut Weda (pegangannya). Ditambah tampilan atribut, simbol, dan tatacara peribadatan yang tampak “menjauh” dari dresta Bali,” kata Widana.

Lalu, lanjut Widana, muncul arogansi oknum, yang cenderung “menyalahkan” apa yang secara turun temurun (tradisional-red) sudah trepti dilaksanakan umat Hindu di Bali. Sebagai orang Bali, meski sudah konversi internal ke Hindu Sampradaya India, logika dan etikanya mesti tetap bepegang pada pepatah “di bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, yang tiada lain desa/loka dresta Bali itu sendiri. “Bagaimanapun juga aliran darah mereka adalah gen etnis Bali yang sejak dulu kala para leluhurnya dengan ajeg “nindihin” gumi Bali dengan agama Hindunya,” tegasnya.

Baca Juga :  Jadilah Wartawan Tak Gentar Dengan Uang, Tak Layu Dengan Rayuan

Menurut Widana akan memalukan dan memilukan jika di antara semeton Bali (Hindu) meski berbeda label saling “beradu”, dengan tanpa menyadari bahwa semuanya benar menurut Weda. Hanya dresta saja yang membedakannya. “Karenanya siapapun dan apapun aliran kehinduannya sepanjang berkeinginan luhur tetap tumbuh berkembang menghiasi taman bunga aneka rupa warna keindahan beragama, sikap arif dan bijaksana yang patut ditunjukkan adalah kembali mengakar pada desa/loka dresta Bali,” pinta Widana. (Fandi Ahmad)

Leave A Reply

Your email address will not be published.