JABARONLINE.COM - Status Palabuhanratu sebagai ibu kota Kabupaten Sukabumi kembali menjadi sorotan. Seorang Aktivis pemerhati kabupaten Sukabumi, Mantra Sugrito, menilai pusat pemerintahan tersebut belum benar-benar tumbuh sebagai pusat ekonomi dan kehidupan masyarakat.
“Ibu kota ini dibuat secara administratif, tetapi tidak dibangun secara fungsional. Yang pindah hanya kantor, bukan pertumbuhan ekonominya,” ujar Mantra Sugrito, Senin (23/2/2026).
Menurutnya, meski kantor bupati, DPRD, dan sejumlah dinas telah lama beroperasi di Palabuhanratu, pusat perputaran uang justru masih terkonsentrasi di wilayah utara Kabupaten Sukabumi.
“Industri besar tetap bertahan di utara karena aksesnya dekat ke Bogor dan Jakarta. Dampaknya jelas, bank, pusat perbelanjaan, hingga perumahan elite tumbuh di sana, bukan di ibu kota,” tegasnya.
Ia menilai kondisi tersebut membuat Palabuhanratu hanya ramai saat jam kerja. Di luar aktivitas perkantoran, kawasan ibu kota terlihat sepi dan belum memiliki denyut ekonomi komersial yang kuat.
“Senin sampai Jumat ramai ASN. Setelah itu, kota seperti kehilangan denyutnya,” kata Mantra.
Mantra juga menyoroti fenomena aparatur sipil negara (ASN) yang bekerja di Palabuhanratu namun memilih tinggal di Kota Sukabumi atau wilayah utara. Kebiasaan pulang-pergi ini disebutnya sebagai budaya “dua kaki”.
“Banyak ASN kerja di sini, tapi hidup dan belanjanya di luar. Gaji mereka tidak berputar di Palabuhanratu. Ini yang menghambat pertumbuhan sektor jasa dan properti,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah daerah terus mempromosikan Palabuhanratu sebagai destinasi wisata unggulan berbasis geopark. Namun menurut Mantra, narasi tersebut perlu diiringi konsistensi pembangunan.
