JABARONLINE.COM - Ramadan di Indonesia selalu menghadirkan nuansa yang unik, di mana perpaduan antara spiritualitas dan tradisi kultural melebur menjadi satu harmoni yang khas. Salah satu tradisi yang paling melekat dalam sanubari masyarakat adalah "ngabuburit"—sebuah istilah yang berasal dari bahasa Sunda, ngalantung ngadagoan burit, yang berarti bersantai sambil menunggu waktu sore atau berbuka puasa.
Namun, di tahun 2024 ini, fenomena ngabuburit telah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan seiring dengan dominasi Generasi Z (Gen Z) dalam ruang publik. Bukan sekadar menunggu azan Maghrib, ngabuburit di tangan generasi kelahiran 1997-2012 ini telah bertransformasi menjadi sebuah peristiwa budaya digital, ajang eksistensi sosial, hingga penggerak roda ekonomi kreatif yang masif. Transformasi ini mencerminkan bagaimana nilai-nilai tradisional beradaptasi dengan kecepatan teknologi dan dinamika sosial modern.
Secara historis, ngabuburit identik dengan kegiatan sederhana seperti berjalan-jalan di taman, mengikuti pengajian di masjid, atau sekadar berkumpul bersama keluarga di teras rumah. Namun, bagi Gen Z, ngabuburit adalah sebuah "pengalaman" yang harus dikurasi dan dibagikan. Fenomena yang paling mencolok tahun ini adalah munculnya istilah "War Takjil" yang viral di berbagai platform media sosial seperti TikTok dan Instagram.
Tren ini menunjukkan bagaimana Gen Z mengubah aktivitas berburu makanan berbuka menjadi sebuah kompetisi yang menyenangkan dan inklusif. Menariknya, fenomena ini tidak hanya melibatkan umat Muslim, tetapi juga merambah ke lintas agama, di mana pemuda non-Muslim turut antusias berburu takjil sejak siang hari. Hal ini menciptakan narasi baru tentang toleransi yang cair dan organik, yang lahir dari interaksi di pasar-pasar kaget daripada sekadar retorika formal.
Pergeseran ini tidak lepas dari karakter Gen Z sebagai digital natives. Bagi mereka, sebuah kegiatan belum dianggap "sah" jika belum didokumentasikan dengan estetika tertentu. Maka, muncullah tren aesthetic ngabuburit, di mana pemilihan tempat menunggu berbuka tidak lagi hanya didasarkan pada kedekatan lokasi, melainkan pada nilai visual atau "Instagramability" suatu tempat. Kafe-kafe dengan konsep terbuka, taman kota yang direvitalisasi, hingga kawasan heritage menjadi magnet bagi mereka.
Data menunjukkan adanya peningkatan kunjungan ke ruang publik sebesar 40% selama jam ngabuburit di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Aktivitas ini bukan sekadar pamer, melainkan bentuk pencarian identitas dan komunitas di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang seringkali membuat individu merasa terisolasi.
Dari perspektif ekonomi, fenomena ngabuburit Gen Z memberikan dampak yang luar biasa bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Gen Z dikenal sebagai generasi yang sangat dipengaruhi oleh ulasan di media sosial.
Sebuah kedai takjil yang viral di TikTok bisa mengalami lonjakan omzet hingga 300% dalam semalam. Dr. Hendrawan, seorang pengamat ekonomi kreatif, mencatat bahwa "ekonomi ngabuburit" tahun ini didorong oleh daya beli Gen Z yang cenderung impulsif namun apresiatif terhadap inovasi produk.
"Mereka tidak mencari kolak biasa; mereka mencari kolak dengan topping kekinian atau kemasan yang ramah lingkungan. Inovasi inilah yang memaksa pedagang tradisional untuk naik kelas dan beradaptasi dengan selera pasar yang lebih modern," ungkapnya dalam sebuah diskusi daring.
