JABARONLINE.COM - Ada tempat yang tidak perlu banyak kata untuk membuat orang betah. Begitu tiba, langkah melambat, suara mengecil, dan pikiran perlahan dilepas. Di sini, waktu terasa berjalan lebih lambat, seolah tidak lagi mengejar apa pun. Lonovila Menoreh berada di perbukitan Menoreh, Jatimulyo, Kulon Progo—di antara hutan, kebun, dan kabut yang sering turun tanpa rencana.
Meski suasananya terasa jauh dari keramaian, akses menuju Lonovila Menoreh sangat mudah. Dari Tugu Yogyakarta hanya sekitar satu jam perjalanan. Dari Bandara Internasional D.I.E. (YIA) di Wates kurang lebih tiga puluh menit, dan dari Stasiun Wates sekitar dua puluh delapan menit. Jalan beraspal lebar dan mulus, berkelok lembut mengikuti bukit, membuat perjalanan terasa nyaman sejak awal, seakan menjadi transisi pelan dari hiruk-pikuk menuju ketenangan.
Setibanya di lokasi, hamparan halaman tanah yang luas dan rata menyambut tanpa sekat. Tanah dibiarkan alami—bersih, padat, dan lapang—memberi rasa pulang kampung yang jujur. Angin membawa aroma tanah dan dedaunan, suara hutan hadir sebagai latar yang hidup: gesekan daun, serangga sore, dan sesekali burung yang melintas. Dalam suasana seperti ini, waktu seolah melebar, memberi ruang untuk duduk lebih lama, diam lebih lama, dan menikmati hal-hal kecil yang sering terlewat.
Di sisi kiri dan kanan halaman tumbuh taman-taman buah yang dirawat sederhana. Pohon durian masih muda, sekitar dua meter tingginya, berdampingan dengan jambu dan tanaman buah lain. Tidak dibuat dramatis, tidak dipaksakan rapi—semuanya tumbuh apa adanya. Di bagian depan, dekat area parkir, terdapat kebun sayur yang hidup: tomat, terong, kacang panjang, aneka sayur musiman, momo-momo, jahe, dan berbagai rimpang. Kebun ini menjadi penanda bahwa Lonovila Menoreh bukan hanya tempat menginap, tetapi tempat menjalani hari.
Bangunan utama Lonovila Menoreh mengusung arsitektur joglo modern—kokoh, teduh, dan hangat. Ruang dalamnya lapang, dengan bukaan lebar yang membiarkan cahaya dan udara pegunungan mengalir bebas. Di bawah kaki, lantai marmer bernuansa warna batu terasa sejuk dan nyaman. Marmer dirancang dengan sentuhan alami, tidak mengilap berlebihan, sehingga menyatu dengan kayu, cahaya, dan suasana hutan. Di ruang-ruang ini, orang cenderung tinggal lebih lama, berbincang lebih pelan, dan tanpa sadar menjadi betah.
Teras kiri dan kanan rumah menjadi ruang hidup yang paling sering dipilih—tempat duduk lama sambil memandangi kebun, mendengar hutan berbicara pelan, dan menyaksikan kabut turun perlahan menyentuh halaman.
