KILASBERITA.ID, Jakarta, – Momentum Idul Fitri selalu menjadi waktu yang tepat untuk kembali ke fitrah, mempererat kebersamaan, serta memperkuat kepedulian sosial. Di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang, peran perempuan dalam menjaga ketahanan keluarga semakin mendapat sorotan.
Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS, Anis Byarwati, menilai bahwa perempuan—terutama para ibu—memegang peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekonomi rumah tangga.
“Dalam kondisi sekarang, perempuan itu benar-benar jadi penopang utama di keluarga. Para ibu harus makin pintar mengatur keuangan keluarga, memastikan kebutuhan tetap terpenuhi walaupun kondisi ekonomi tidak mudah,” ujar Anis dalam keterangannya oada wartawan, Jum'at,(20/3/2026).
Ia mengakui bahwa tekanan ekonomi masih dirasakan oleh masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan belum pulihnya daya beli membuat banyak keluarga harus beradaptasi dengan berbagai keterbatasan.
“Kita tidak bisa menutup mata, harga-harga kebutuhan sehari-hari masih terasa tinggi. Situasi ini membuat perempuan sering kali harus mencari cara tambahan, bahkan ikut menambah penghasilan keluarga,” lanjutnya.
Meski demikian, Anis menegaskan bahwa mencari nafkah bukanlah tugas utama perempuan, melainkan tanggung jawab yang pada dasarnya berada pada laki-laki. Peran perempuan dalam ekonomi keluarga dinilai sebagai bentuk dukungan yang memperkuat, bukan kewajiban utama.
“Ketika perempuan ikut berkontribusi, itu adalah kekuatan tambahan bagi keluarga,” tegasnya.
Menurutnya, kondisi saat ini justru menuntut adanya kerja sama yang lebih baik antara suami dan istri dalam mengelola ekonomi keluarga.
“Mengelola ekonomi keluarga membutuhkan komunikasi yang baik dan pembagian peran yang bijak. Dengan kerja sama yang sehat, beban tidak bertumpu pada satu pihak, sehingga keluarga lebih kuat menghadapi tantangan,” jelas Anis.
