JABARONLINE.COM - Di bulan Ramadhan, kita sering diajarkan dan diajak untuk lebih banyak menahan diri, menahan lapar, emosi, dan juga ego. Salah satu latihan sederhana yang jarang disadari ialah belajar mendengar dengan sungguh-sungguh.
Mendengar bukan sekadar diam saat orang lain berbicara. Mendengar berarti memberi perhatian penuh, mencoba memahami perasaan lawan bicara, dan tidak terburu-buru menyela atau menghakimi. Dari sinilah empati tumbuh.
Banyak konflik di pengajian, sekolah, kampus, bahkan dalam pertemanan, sebenarnya terjadi bukan hanya karena perbedaan pendapat, tetapi juga karena merasa tidak didengar. Ketika seseorang merasa dipahami, hatinya lebih tenang. Sebaliknya, ketika diabaikan, emosi mudah meledak.
Kemampuan mendengar yang baik membantu kita menjadi pribadi yang lebih matang secara emosi. Kita tidak mudah tersinggung, tidak cepat membalas dengan kata-kata kasar, dan lebih mampu mengendalikan diri. Dalam ilmu psikologi, empati termasuk bagian dari kecerdasan emosional yang sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam kehidupan sosial.
Dalam ajaran Islam pun, adab mendengar sangat ditekankan. Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang tidak memotong pembicaraan dan menghadapkan tubuhnya penuh saat berbicara dengan orang lain. Sikap ini menunjukkan penghargaan dan perhatian.
Ramadhan adalah momen yang tepat untuk melatih diri, ketika teman bercerita, dengarkan sampai selesai, ketika orang tua menasihati, simak dengan hati terbuka, ketika berbeda pendapat, responlah dengan tenang. Dari kebiasaan kecil ini, tumbuhlah empati. Dari empati, lahirlah kematangan emosi.
Karena sejatinya, menjadi dewasa bukan tentang usia, tetapi tentang kemampuan memahami orang lain dengan hati yang lapang.
Penulis : Mutawarudin, S.Pd
