KILASBERITA.ID, Bogor – Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, menyebut Indonesia memiliki sejumlah kota dengan perayaan Cap Go Meh yang meriah, seperti Surabaya, Bandung, Manado, dan Bekasi. Namun, menurutnya, perayaan terbesar hanya ada di Singkawang dan Bogor.

Hal tersebut disampaikan Bima Arya usai menghadiri puncak perayaan Bogor Street Festival Cap Go Meh 2026 di kawasan Jalan Suryakencana, Kota Bogor. Ia menilai kekuatan utama Bogor terletak pada kolaborasi erat antara masyarakat, komunitas, dan pemerintah daerah.

“Selama ini Bogor istimewa karena kolaborasinya. Namun tahun ini berbeda, tidak hanya kolaborasi, tetapi juga toleransi karena bertepatan dengan bulan Ramadan,” ujar Bima.

Perayaan Cap Go Meh tahun ini memang menghadirkan nuansa unik karena berlangsung di tengah bulan suci Ramadan. Panitia dinilai mampu merancang rangkaian acara secara elegan, dimulai dari bazar Ramadan hingga penyesuaian jadwal kegiatan setelah salat tarawih.

“Tadi kami sama-sama menunaikan salat tarawih terlebih dahulu, kemudian ada nuansa Islami yang mengiringi pawai. Ini adalah ciri khas Kota Bogor,” tambahnya.

Bima Arya juga menegaskan bahwa di tengah tantangan bangsa yang semakin kompleks, nilai kebersamaan harus terus dirawat. Ia mengingatkan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi penghalang persatuan, melainkan harus dijahit menjadi kekuatan bersama melalui momentum seperti Cap Go Meh.

Sementara itu, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan rasa syukur atas keberlangsungan tradisi tersebut yang telah memasuki penyelenggaraan ke-24 kali, atau total 27 kali dengan tiga kali sempat tertunda.

“Ini merupakan bentuk komitmen masyarakat Bogor untuk menguatkan toleransi keberagaman dan mempererat tali silaturahmi antarumat beragama serta antarunsur masyarakat,” ujarnya.

Perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor kembali menegaskan identitas “kota hujan” sebagai ruang perjumpaan budaya. Tak hanya merawat tradisi, perhelatan ini juga menjadi simbol kuat toleransi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.(AL/KB).