JABARONLINE.COM, Jakarta, - Sutradara film Sayap Garuda, Tarmizi Abka, menyampaikan rasa duka dan keprihatinannya atas maraknya kasus perundungan di lingkungan sekolah.

Ironisnya, di saat ia aktif mengampanyekan gerakan Stop Bullying, anaknya yang masih bersekolah di tingkat dasar justru menjadi korban kekerasan. “Sebagai seorang ayah, saya sangat terpukul melihat foto anak saya dengan jidat terluka akibat dilempar alat tulis. Padahal, pada saat yang sama saya sedang berjuang menyuarakan kampanye stop bullying di sekolah,” ujar Tarmizi.

Peristiwa tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa pengawasan terhadap praktik kekerasan dan perundungan di sekolah masih sangat lemah.

Kondisi itu membuka celah terjadinya tindak kekerasan antarsiswa yang hingga kini masih kerap terjadi.

Tarmizi berharap pemerintah dapat lebih serius dan konsisten menjalankan kampanye nasional anti-bullying. Ia menilai kesehatan mental anak terbentuk sejak dini, salah satunya melalui lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman bagi tumbuh kembang anak.

“Sekolah yang selama ini dianggap sebagai tempat aman, ternyata masih menyimpan potensi kekerasan dan kenakalan antarsiswa,” katanya.

Ia juga menyoroti kecenderungan pembelaan terhadap pelaku, baik dari orang tua maupun pihak sekolah. Alasan seperti “tidak sengaja” atau penyelesaian melalui permintaan maaf kerap dijadikan jalan damai, meski korban tetap menanggung luka, baik secara fisik maupun psikologis.

Bahkan, tak jarang orang tua pelaku terus membela anaknya dan mengecilkan dampak kejadian tersebut. “Kalau situasinya terus seperti ini, siapa sebenarnya yang menjadi korban?” tegasnya.

Sebagai orang tua, Tarmizi menekankan bahwa harapan semua pihak sederhana, yakni anak-anak dapat belajar dengan aman, nyaman, dan tenang.