KILASBERITA.ID, Jakarta – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru setelah kedua negara sepakat melakukan gencatan senjata selama dua minggu. Kesepakatan ini diumumkan oleh Presiden Donald Trump pada Selasa, sebagai langkah awal menuju pembicaraan damai yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada Jumat mendatang.
Selain menghentikan sementara konflik, kesepakatan tersebut juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima distribusi minyak dunia. Langkah ini dinilai akan membantu meredakan kekhawatiran pasar global terhadap gangguan pasokan energi.
Upaya Menuju Perdamaian
Dikutip dari Al-Jazeera, Gencatan senjata ini dipandang sebagai peluang penting untuk membuka jalur diplomasi antara kedua negara yang selama ini terlibat ketegangan berkepanjangan. Pembicaraan di Islamabad diharapkan mampu menghasilkan kesepakatan jangka panjang yang dapat mengakhiri konflik secara menyeluruh.
Sejumlah negara pun menyambut positif perkembangan tersebut, melihatnya sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas kawasan dan ekonomi global.
China: Dorong De-eskalasi Konflik
Pemerintah China menyatakan dukungan penuh terhadap kesepakatan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning menegaskan bahwa Beijing telah berperan aktif dalam mendorong dialog antara pihak-pihak terkait.
Ia menyebut Menteri Luar Negeri Wang Yi telah melakukan puluhan komunikasi dengan negara-negara terkait, serta mengirim utusan khusus ke kawasan Timur Tengah guna membantu meredakan konflik.
“China akan terus berupaya mendorong de-eskalasi dan penyelesaian damai secara menyeluruh,” ujarnya dalam konferensi pers.
