JABARONLINE. COM, – Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq melontarkan pernyataan keras soal budaya sampah di Indonesia. Di hadapan tokoh agama, komunitas sungai, dan perwakilan kementerian/lembaga, Hanif menegaskan Fatwa MUI tentang haramnya membuang sampah ke sungai tidak boleh berhenti sebagai simbolik belaka.
“Jangan berhenti di bantaran Sungai Cikeas ini. Jangan berhenti sebagai seremoni. Bawa fatwa ini ke seluruh masjid, ke pesantren-pesantren, terutama menjelang Ramadan. Ini momentum menyadarkan umat,” tegasnya dalam kegiatan Aksi Bersih Sungai Cikeas dan Pengukuhan Fatwa MUI di KISUCI Sentul, Minggu lalu.
Menurut Hanif, persoalan sampah bukan lagi sekadar isu teknis lingkungan, melainkan krisis moral dan mental bangsa. Ia menyinggung fakta bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, namun persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung tuntas.
“90 persen penduduk Indonesia muslim. Kalau ajaran agama sudah jelas melarang membuat kerusakan, masa urusan sampah saja kita tidak bisa bereskan?” ujarnya tajam.
Hanif bahkan menyebut persoalan sampah sebagai “tunggakan mental” yang harus segera dibereskan. Ia menegaskan tidak ada negara maju yang gagal mengelola sampahnya.
“Tidak ada satu pun negara maju yang bermasalah dengan sampah. Sebaliknya, negara yang masih membiarkan sampah menumpuk tidak akan pernah benar-benar maju. Ini persoalan serius, bukan remeh-temeh,” katanya.
Dalam pidatonya, Hanif juga mengajak masyarakat berhenti merasa inferior atau tertekan oleh budaya luar. Menurutnya, Indonesia adalah negara besar dengan potensi luar biasa, namun sering gagal memaksimalkan kekuatan sendiri, termasuk dalam membangun budaya bersih.
“Kita ini negara indah, kaya, luar biasa. Tapi kenapa urusan sampah saja masih kedodoran? Mari tegakkan badan kita. Bangkit dengan kemampuan sendiri. Jangan terus merasa under pressure,” ucapnya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, daerah, tokoh agama, komunitas, hingga dukungan internasional seperti UNDP dan mitra lainnya. Namun, ia mengingatkan bahwa perubahan perilaku tetap menjadi kunci utama.
