KILASBERITA.ID, Kuningan,— Harga kedelai impor di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, terus mengalami kenaikan signifikan pasca momen Lebaran 2026. Kondisi ini diduga kuat dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok dan harga komoditas pangan dunia.

Kenaikan harga tersebut kini dirasakan langsung oleh para perajin tahu di Desa Kramatmulya, Kecamatan Kramatmulya. Berdasarkan pantauan di lapangan, harga kedelai saat ini telah mencapai Rp10.800 per kilogram, meningkat dari sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp8.000 hingga Rp10.000 per kilogram.

Situasi ini memaksa para pelaku usaha kecil untuk mengambil langkah bertahan. Salah satunya dengan memperkecil ukuran tahu agar biaya produksi tetap terkendali. 

Beberapa perajin bahkan sempat menaikkan harga jual, namun kebijakan tersebut menuai keluhan dari konsumen.

“Imbasnya pemasukan berkurang. Untuk antisipasi, ukuran tahu diperkecil. Sempat dinaikkan harganya, tapi banyak yang komplain,” ujar Ujang(47), salah satu perajin tahu setempat.

Tak hanya itu, kenaikan harga bahan baku juga berdampak langsung pada kapasitas produksi. Jika sebelumnya perajin mampu mengolah hingga 70 kilogram kedelai per hari, kini jumlah tersebut menurun menjadi sekitar 50 kilogram. Penurunan ini otomatis berpengaruh terhadap omzet harian yang ikut merosot.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku UMKM tahu. Mereka mengaku semakin sulit menjaga kestabilan usaha di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat, sementara daya beli masyarakat cenderung stagnan.

Para perajin berharap pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan harga kedelai di pasaran, baik melalui kebijakan impor maupun subsidi bagi pelaku usaha kecil. Tanpa intervensi yang tepat, mereka khawatir usaha tahu yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga bisa terancam gulung tikar.

Selain itu, pelaku usaha juga mendorong adanya solusi jangka panjang, seperti penguatan produksi kedelai lokal agar ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi.