KILASBERITA.ID, Jakarta, – Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat seiring konflik yang dipicu serangan udara Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran memasuki hari ke-15.
Dalam perkembangan terbaru, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) secara terbuka menyatakan niatnya untuk membunuh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Melalui situs media afiliasinya, Sepha News, IRGC pada Sabtu (15/3) mengeluarkan pernyataan keras yang menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengejar Netanyahu.
“Jika penjahat yang membunuh anak-anak ini masih hidup, kami akan terus mengejarnya dan membunuhnya dengan segenap kekuatan kami,” demikian pernyataan IRGC.
Pernyataan tersebut menarik perhatian karena menyertakan frasa “jika dia masih hidup”, yang ditafsirkan sebagian kalangan sebagai sindiran terhadap rumor yang beredar tentang dugaan kematian Netanyahu.
Muncul Teori Kematian Netanyahu Spekulasi mengenai kondisi Netanyahu mulai berkembang setelah video pidato perdana menteri yang dirilis pada 13 Maret memicu kecurigaan di media sosial.
Dalam video tersebut, sebagian pengguna internet menilai tangan kanan Netanyahu terlihat memiliki enam jari, sehingga memunculkan dugaan bahwa video tersebut merupakan hasil manipulasi kecerdasan buatan (AI).
Dari situ muncul teori konspirasi yang menyebutkan bahwa pemerintah Israel diduga menutupi kematian Netanyahu akibat serangan Iran dengan merilis video buatan AI. Isu tersebut juga disoroti komentator politik konservatif Amerika Serikat, Candace Owens.
Melalui platform X, ia mempertanyakan keberadaan Netanyahu. “Di mana Bibi? Mengapa Kantor Perdana Menteri merilis lalu menghapus video AI palsunya?” tulis Owens, menggunakan julukan populer Netanyahu.
