JABARONLINE.COM, — Perbedaan waktu perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah tahun ini membawa dampak bagi para pedagang musiman. Momentum yang biasanya menjadi puncak penjualan justru terasa lesu, dengan omzet yang menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
Salah satu pedagang, Fajri, mengaku merasakan langsung perubahan tersebut. Ia yang rutin membuka lapak sandal setiap menjelang Lebaran menyebut kondisi pasar tahun ini tidak seramai biasanya.
“Kalau tahun kemarin lebih ramai, sekarang terasa sepi. Mungkin karena Lebarannya beda-beda, jadi pembeli juga terbagi,” ujarnya, Jumat (20/3/2026).
Untuk menarik minat pembeli, Fajri menurunkan harga jual dagangannya. Sandal dewasa ia banderol maksimal Rp40 ribu, sementara sandal anak-anak dijual di kisaran Rp20 ribu hingga Rp25 ribu.
Meski demikian, strategi obral harga tersebut belum mampu mendongkrak penjualan secara signifikan.
Fenomena perbedaan waktu perayaan Idul Fitri dinilai memengaruhi pola belanja masyarakat. Konsumen cenderung menyesuaikan waktu berbelanja dengan hari raya yang mereka ikuti, sehingga tidak terjadi lonjakan pembelian dalam satu waktu bersamaan.
Kondisi ini membuat pedagang musiman kehilangan momentum puncak yang biasanya menjadi sumber pendapatan utama menjelang Lebaran.
Para pedagang pun berharap perayaan Idul Fitri ke depan dapat berlangsung serentak, sehingga daya beli masyarakat kembali terpusat dan berdampak positif bagi penjualan mereka.
