JABARONLINE. COM, - Sekitar 1.500 umat Hindu Kota Bekasi menggelar upacara Melasti di kawasan Pelabuhan Perikanan Paljaya, Jembatan Cinta Muara Tawar, Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Minggu (15/3/2026).
Ritual sakral ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada Kamis (19/3/2026).
Sejak pagi, ribuan umat memadati kawasan pesisir dengan mengenakan busana serba putih. Mereka membawa perlengkapan upacara dari Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi dalam arak-arakan khidmat mepeed menuju lokasi ritual.
Upacara Melasti dipimpin oleh Ida Pedanda Gde Sebali Waisnawa Mahardika dan Ida Pandita Istri Puspasari. Para peserta berasal dari dua komunitas besar, yakni Banjar Suka Duka Hindu Dharma Bekasi dari Pura Agung Tirta Bhuana dan Banjar Hitakarma Pondok Gede.
Puncak prosesi ditandai dengan ritual Mendak Tirta, yakni pengambilan air suci dari tengah laut menggunakan perahu. Prosesi ini melambangkan penyucian diri atau bhuwana alit dan penyucian alam semesta atau bhuwana agung, yang menjadi inti dari pelaksanaan Melasti menjelang Nyepi.
Suasana sakral semakin terasa dengan iringan Tari Rejang Dewa, Tari Rejang Sari, serta musik tradisional Baleganjur yang menggema di kawasan pantai. Lautan umat berpakaian putih tampak khusyuk mengikuti setiap tahapan ritual di tepi laut.
Ketua Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Jawa Barat, Brigjen TNI (Purn) I Made Riawan, mengatakan Melasti bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga membawa pesan universal tentang persaudaraan dan kedamaian.
“Tahun ini kami mengusung tema Wasudewa Kutumbakam yang bermakna: Kita Semua Adalah Saudara, Seluruh Dunia Adalah Satu Keluarga. Melalui tema ini, kami ingin menekankan bahwa meski kita berasal dari latar belakang, suku, atau agama yang berbeda, kita tetap merupakan bagian dari satu kesatuan kemanusiaan yang utuh,” kata Riawan.
Menurut Riawan, kawasan Pelabuhan Paljaya Jembatan Cinta Muara Tawar dipilih sebagai lokasi Melasti untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. Selain mampu menampung ribuan umat, hamparan laut di lokasi tersebut dinilai merepresentasikan kesucian air atau tirta amerta yang menjadi esensi dalam ritual Melasti.
