JABARONLINE.COM, Riyadh, – Kerajaan Arab Saudi melalui Saudi Food and Drug Authority (SFDA) resmi menetapkan larangan impor unggas dan telur secara total dari 40 negara serta parsial dari 16 negara.
Kebijakan terbaru terhadap Indonesia tertuang dalam aturan SFDA Nomor 6057 dan mulai berlaku sejak 1 Maret 2026. Atase Perdagangan (Atdag) RI Riyadh, Zulvri Yenni, menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak berkaitan dengan isu halal.
Menurutnya, larangan impor lebih ditujukan pada pemenuhan standar kualitas, kesehatan, dan regulasi yang berlaku di pasar domestik Arab Saudi. “Larangan impor ini tidak berkaitan dengan isu halal, tetapi lebih kepada isu pemenuhan kualitas mutu untuk memenuhi persyaratan kesehatan, regulasi, dan standar yang berlaku,” ujar Zulvri.
Sertifikat halal Indonesia sendiri telah diakui Arab Saudi sejak penandatanganan nota kesepahaman antara Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dan SFDA pada 19 Oktober 2023.
Bukan Soal Halal, Arab Saudi Perketat Impor Unggas karena Isu Kesehatan Hewan, Kebijakan ini dinilai sebagai momentum bagi Indonesia untuk segera memperbarui status bebas flu burung di laporan World Organization for Animal Health (WOAH).
Hingga pembaruan terakhir pada 28 Januari 2026, Indonesia belum merealisasikan kembali ekspor unggas dan telur ke Arab Saudi karena belum memperoleh kembali status bebas flu burung.
Zulvri menyebutkan, pengakuan status bebas flu burung akan membuka kembali peluang akses pasar bagi produk unggas nasional.
SFDA, lanjutnya, akan terus melakukan peninjauan berkala terhadap daftar larangan impor seiring perkembangan situasi kesehatan hewan global berdasarkan laporan WOAH, khususnya terkait wabah flu burung yang sangat patogen.
Indonesia Masuk Daftar 40 Negara Terdampak Larangan Total Impor Unggas Saudi
