JAKARTA – Dewan Adat BAMUS Betawi kembali menunjukkan komitmen sosial dan kepedulian terhadap pelestarian budaya melalui agenda tahunan "Ramadhan Penuh Cinta ke-15". Dalam kegiatan yang berlangsung di Balai Budaya Condet, Jakarta Timur, Rabu (18/3/2026) tersebut, sebanyak 500 anak yatim menerima santunan dan paket bantuan.

Acara ini tidak hanya menjadi momentum berbagi, tetapi juga ruang silaturahmi bagi para tokoh masyarakat, ulama, serta penggiat seni budaya Betawi. Kegiatan yang dirangkai dengan buka puasa bersama ini mempertegas peran BAMUS Betawi dalam menjaga harmoni sosial di Jakarta.

Ketua Umum Dewan Adat BAMUS Betawi, Muhammad Rifqi atau yang akrab disapa Ekki Pitung, menyatakan bahwa konsistensi organisasi dalam memadukan nilai religi dan budaya adalah kunci utama kegiatan ini. Menurutnya, menyantuni anak yatim sudah menjadi tradisi yang melekat kuat dalam identitas masyarakat Betawi.

"Setiap tahun kami hadir dengan semangat yang sama, yakni berbagi kepada anak yatim sekaligus memperkuat nilai kebersamaan. Ini merupakan bentuk konsistensi kami dalam menjaga tradisi sosial dan keagamaan," ujar Ekki di sela-sela acara.

Penerima manfaat dalam kegiatan ini mencakup anak-anak yatim dari berbagai wilayah di Jakarta, dengan konsentrasi utama di Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan Jakarta Barat. Ekki menambahkan bahwa keberhasilan acara ini merupakan hasil kolaborasi kolektif antara tokoh masyarakat, lembaga, dan para donatur.

Selain aspek sosial, Ekki Pitung juga menyelipkan pesan mengenai persatuan nasional. Ia berharap doa dari ratusan anak yatim yang hadir dapat membawa keberkahan dan stabilitas bagi Indonesia di tengah dinamika global yang kian kompleks.

"Kita ingin Ramadhan ini menjadi momentum untuk mendoakan bangsa agar tetap aman, tidak mudah terprovokasi, dan mampu menghadapi berbagai tantangan global ke depan," tuturnya.

Di sisi lain, BAMUS Betawi turut menyoroti posisi strategis kebudayaan lokal dalam transformasi Jakarta menuju kota global. Ekki menegaskan bahwa modernisasi tidak boleh mengeliminasi identitas asli Jakarta. Ia mendorong pemerintah pusat untuk memberikan perhatian khusus dalam perlindungan dan pengembangan budaya Betawi melalui kebijakan nasional yang konkret.

"Betawi adalah budaya inti Jakarta. Tantangannya saat ini adalah bagaimana kita menjaga eksistensi identitas lokal agar tidak tergerus oleh arus globalisasi," tegas Ekki.