JABARONLINE. COM, -- Upaya pemerintah melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dinilai memberikan dampak signifikan dalam menekan risiko bencana hidrometeorologi, khususnya banjir dan tanah longsor, di wilayah rawan Jabodetabek.
Wilayah Cileungsi, Gunung Putri hingga Bekasi selama ini dikenal sebagai kawasan langganan banjir akibat luapan sungai. Namun, sejak pelaksanaan modifikasi cuaca, intensitas curah hujan di wilayah tersebut dilaporkan mengalami penurunan.
Komunitas Peduli Sungai Cileungsi–Cikeas (KP2C) menilai kebijakan tersebut sangat membantu masyarakat yang selama bertahun-tahun hidup dalam ancaman bencana.
Ketua KP2C, Puarman, mengatakan bahwa program modifikasi cuaca mampu mengalihkan hujan deras dari wilayah rawan sehingga debit Sungai Cileungsi lebih terkendali.
“Untuk wilayah Cileungsi dan sekitarnya, saat ini tidak terjadi curah hujan tinggi. Sungai dapat tertangani dengan baik dan tidak terjadi luapan atau banjir besar seperti beberapa tahun lalu,” ujar Puarman, Senin (2/2/2026).
Ia menambahkan, keterbatasan infrastruktur pengendalian banjir di Indonesia, khususnya Jabodetabek, membuat OMC menjadi solusi jangka pendek yang sangat dibutuhkan.
“Infrastruktur penanganan banjir memang belum optimal. Karena itu, modifikasi cuaca sangat menolong warga yang kerap menjadi korban banjir dan tanah longsor,” katanya Fuarman kepada JABARONLINE. com, Selasa (3/2/2026).
Atas dasar tersebut, masyarakat di Cileungsi, Gunung Putri, dan wilayah sekitarnya berharap pemerintah dapat memperpanjang pelaksanaan modifikasi cuaca hingga April 2026, seiring masih tingginya potensi cuaca ekstrem.
KP2C juga mengapresiasi keterbukaan informasi dari pemerintah terkait jadwal dan pelaksanaan OMC, sehingga masyarakat dapat lebih waspada dan siap menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
